Analisis Film Lelakone Menur

Film ini adalah salah satu film yang ditonton saat praktikum mk. Gender dan Pembangunan

Menur merupakan kelompok tani wanita yang ada di Desa Wareng, Gunung Kidul. Menurut Suparjiyem, ketua kelompok Menur, awalnya Menur merupakan kelompok ibu-ibu tetapi belum memiliki tujuan dan maksud yang sama. Hanya sekedar berkumpul dan belum ada tujuan yang jelas dan positif. Mereka berpikir jika mereka bisa mengatasi masalah-masalah terutama masalah perempuan, mereka akan mendapat peluang berupa pengakuan bahwa perempuan tidak hanya nurut pada suami.

Kelompok ibu-ibu tersebut sudah tahu jika pada organisasi perlu kepengurusan dan administrasi. Lalu ibu-ibu tersebut memberi nama, Menur. Kelompok Menur juga mendapat pelatihan dari SLPHT. Mereka menyebarkan ilmunya kepada ibu-ibu yang lain yang tidak tergabung dalam kelompok menur.

Dulu sebenarnya anggota kelompok menur adalah laki-laki dan perempuan. Tetapi karena laki-laki merasa tidak nyaman sebagai kaum minoritas pada kelompok tersebut, mereka mewakilkan istrinya dalam kelompok menur. Jadi pada akhirnya yang dikoordinir di kelompok menur adalah ibu-ibu yang ingin mendapat penghasilan tambahan untuk keluarga.

Di kelompok menur ada program iuran, tabungan, dan simpan pinjam. Selain itu ada pelatihan pertanian untuk ibu-ibu. Dengan kata lain, di kelompok menur ibu-ibu tersebut mendapat pendidikan dan pelatihan keterampilan untuk dapat menghasilkan tambahan untuk keluarga.

Pada film yang berjudul Lelakone Menur ini juga terdapat pembagian kerja antara suami dan istri. Hal ini dapat kita lihat pada tabel berikut ini

Kegiatan Dikerjakan oleh
Mengangkut rumput perempuan dan laki-laki
Memecahkan kayu / batu perempuan dan laki-laki
Menimba air untuk menyiram ladang perempuan dan laki-laki
Mengangkut sorghum perempuan dan laki-laki
Memotong kayu perempuan dan laki-laki
Mencari pakan ternak laki-laki
Memasak laki-laki
Mencangkul perempuan
Mencuci baju perempuan
Membuat lumbung padi perempuan
Mencari nafkah tambahan perempuan

 

Dalam pembagian kerja dalam film Lelakone Menur tersebut, terlihat bahwa perempuan banyak berperan dalam memecahkan masalah pertanian dengan membuat lumbung padi dan membantu perekonomian keluarga. Tetapi  dalam kenyataan yang ada, perempuan sering tidak diperhitungkan dalam pembangunan. Padahal strategi utama pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi. Melihat kegiatan yang dilakukan oleh kelompok Tani Menur, perempuan juga bisa mempengaruhi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, film ini juga menunjukkan adanya kesetaraan kesempatan yang diberikan untuk perempuan dalam membantu perekonomian keluarga sehingga memberikan kesamaan hasil yang diperoleh antara kerja laki-laki dan perempuan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini diperlihatkan pada bagian seorang ibu yang menjadi anggota kelompok tani menur. Ibu tersebut dibekali keterampilan dan pengetahuan untuk menanam benih dengan teknik tonjo. Dengan teknik tonjo tersebut menyebabkan hasil panen yang lebih baik serta bibit yang digunakan pun menjadi lebih hemat. Film ini juga menunjukkan ada keluarga yang dahulu kepala keluarganya bekerja sebagai pedagang di Malioboro, tetapi sekarang sudah digusur. Dengan istrinya yang menjadi anggota kelompok Menur, dapat membantu mengolah tanah sehingga dapat menghasilkan untuk kebutuhan keluarganya.

Film ini juga menunjukkan gender sebagai konstruksi sosial. Karena dari kegiatan yang di lakukan oleh Kelompok Tani Menur, dapat disimpulkan bahwa ada pemberdayaan yang dilakukan untuk perempuan sehingga dapat membantu perekonomian keluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s