Analisis Film Pertaruhan (Untuk Apa? dan Regat’e Anak)

Film 1: Untuk Apa?

Film Untuk Apa? Bercerita tentang tradisi khitan untuk perempuan. Dalam film tersebut disajikan beberapa komentar tentang khitan untuk perempuan dari berbagai kalangan. Masing-masing kalangan tersebut berpendapat bahwa khitan untuk perempuan itu karena beberapa alasan, hal yang paling sering diutarakan adalah untuk kesehatan. Selain untuk kesehatan, khitan untuk perempuan juga dilakukan karena tradisi dan ajaran agama.

Selain itu, Bapak Agus, salah satu tokoh adat mengatakan bahwa jika perempuan tidak disunat maka seksnya menjadi tidak karuan, tidak setia, serta tidak dapat memberi kepuasan untuk suaminya. Selain itu menjadi gampang terbawa arus.

Menurut pengakuan Wangi Indriya seorang penari topeng mengatakan bahwa saat dia disunat saat itu masih kecil, jadi menurut saja. Sunat untuk perempuan juga merupakan tradisi di tempatnya, jadi Wangi Indriya menjadi takut jika dikucilkan dan dijauhi oleh orang-orang yang lebih percaya tradisi karena tidak disunat.

Menurut Prof. Dr. Hj. Huzzaimah T. Yango, MA, khitan untuk perempuan adalah suatu kemuliaan. Selain kemuliaan, khitan untuk perempuan juga dimaksudkan untuk menstabilkan syahwat.

Khitan untuk perempuan merupakan sebuah tradisi karena caranya yang berbeda di setiap daerah.

Di beberapa daerah, khitan untuk perempuan dilakukan saat si anak sudah balita, sehingga si anak merasa sakit dan menjadi trauma.

Salah satu dokter juga mengatakan bahwa khitan untuk perempuan sudah tidak boleh dilakukan oleh depkes. Dan tidak ada dasar ilmu pengetahuan untuk melakukan khitan untuk perempuan.

Komentar:

Saya perempuan dan saya dikhitan. Awalnya saya tidak mengetahui alasan mengapa saya dikhitan, saat saya menanyakan kepada orang tua saya, beliau menjawab untuk kesehatan, karena saat dikhitan, ada kotoran yang diambil. Tetapi setelah saya menonton film ini dan melihat testimoni serta argumen tentang khitan untuk perempuan, saya memiliki pendapat sendiri. Khitan perempuan dilakukan bukan semata-mata untuk kesehatan si perempuan melainkan ada hal yang menjadi argumen dan hal ini membuat saya sedikit mengerutkan alis. “jika perempuan tidak disunat maka seksnya menjadi tidak karuan, tidak setia, serta tidak dapat memberi kepuasan untuk suaminya. Selain itu menjadi gampang terbawa arus” saya menyimpulkan bahwa perempuan dikhitan karena dipengaruhi faktor luar dan dilakukan untuk kepentingan pihak lain dalam hal ini laki-laki.

Film 2: Regat’e Anak

Film yang berjudul Regat’e Anak berkisah tentang dua orang PSK di Tulungagung. Kedua PSK ini setiap pagi bekerja sebagai pemecah batu. Mereka berdua sama-sama memiliki anak dan mereka menjadi PSK sebagai tambahan untuk menghidupi anak-anak mereka.

Pendapatan mereka dari menjadi pemecah batu sebesar 400 ribu per bulan. Dan saat menjadi PSK, mereka mendapatkan 10000 rupiah sekali tidur. Dalam sehari mereka bisa sampai empat kali tidur.

Dalam film ini juga diceritakan bahwa uang yang mereka dapat dari melayani laki-laki itu juga mereka setorkan untuk preman-preman yang ada di kuburan Gunung Bolo tersebut. Mereka juga kadang mengalami kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki yang mabuk dan preman-preman yang ada di Gunung Bolo tersebut.

Mereka sebenarnya tidak mau menjadi PSK. Mereka menjadi PSK karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan mereka juga menginginkan perubahan dalam hidup mereka. Mereka tidak mau anak mereka tidak melanjutkan sekolah, mereka juga tidak mau jika anak mereka nanti akan seperti mereka.

Saat menjadi PSK, sebenarnya mereka memiliki beban mental tersendiri. Mereka masih takut jika sewaktu-waktu terjadi razia dan mereka tertangkap. Mereka takut jika tertangkap, tidak ada yang merawat anak mereka di rumah.

Komentar:

Dalam film ini sangat terlihat bahwa perempuan dianggap sebagai ‘budak’ bagi laki-laki. Karena terlihat dari salah satu testimoni yang berisi kurang lebih ‘kalau mbak-mbak itu nggak kerja di sini, kita susah dapat uang’ dan ‘perempuan itu hanya untuk teman tidur saja’. Selain itu di film ini banyak memberikan fakta bahwa telah terjadi kekerasan dialami oleh perempuan. Dan kesulitan ekonomi menjadi alasan utama mereka bekerja sebagai PSK di Gunung Bolo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s